Manusia perlu tidur untuk membantu memulihkan kesegaran fungsi-fungsi fisik dan mental dalam kehidupannya seperti mahluk hidup lain di bumi memperlihatkan irama kehidupan yang sesuai dengan masa rotasi dari bola dunia.
Manusia mempunyai jam biologis yang merupakan irama harian yaitu tidur pada malam hari dan aktif di siang hari. Manusia dewasa normal memerlukan tidur 6 – 8 jam sehari berupa tidur lelap dan tak terputus sangat perlu untuk kesehatan, maka perlu lingkungan yang tenang dan tempat tidur yang hangat, karena dingin merangsang otak untuk melakukan kegiatan fisik. Sedangkan bayi perlu 20 jam tidur sehari, anak-anak 10 – 12 jam sehari.
Bukan berarti susunan syaraf tidak aktif pada waktu kita tidur, tetapi mengadakan sinkronisasi terhadap sel-sel syaraf di batang otak pada bagian pusat tidur yang terletak di medulla oblongata. Dengan perekaman aktivitas listrik otak (Elektroencephalogram), kegiatan susunan syaraf pusat pada waktu tidur dapat diungkapkan sesuai tahap-tahap tidur.
Pada tahap pertama dimana seseorang baru terlena seluruh otot melemas , kelopak mata tertutup, kedua bola mata bergerak-gerak kekiri kekanan. Memasuki tahap kedua bola mata berhenti bergerak, voltase dan gelombang-gelombang alfa makin menurun frekwensinya dilanjutkan memasuki tahap 3 dan 4 dimana tubuh lemah lunglai. Pada tahap 5 bola mata mulai bergerak-gerak kembali dengan kecepatan lebih tinggi, disebut Rapid Eye Movement Sleep (REMS), tahap 1 s/d 4 disebut Non Rapid Eyemovement Sleep (NREMS). Dalam tidur 8 jam REM dan NREM bergantian 4 – 6 kali. Bila kurang cukup REM, maka keesokan hari orang menjadi hiperaktif, tidak dapat mengendalikan emosi, nafsu makan maupun birahinya, namun bila NREM yang kurang cukup maka orang menjadi loyo. Mimpi terjadi pada waktu tidur dangkal (REM) dimana otak sangat giat, sedangkan tidur lebih nyenyak (NREM) pikiran istirahat dan tidak aktif.
Secara farmakologik, neurotransmitter (pemancar syaraf yng menimbulkan tidur) melepaskan serotonin pada waktu tidur NREM, dan norefinefrin pada waktu tidur REM.
Gangguan tidur dapat berupa tidur terlalu banyak atau tidak dapat tidur, ada juga perilaku menyimpang pada waktu tidur.
Hipersomnuia (suka tidur, tidur keterlaluan) dapat terjadi pada lanjut usia atau orang kelelahan dan tidak tidur beberapa malam, namun bila disertai kesadaran menurun atau gangguan kesadaran, biasanya manifestasi dari penyakit primer seperti hiperglicaemia diabetes melitus, penyakit kor pulmonale, penyakit hati, kegagalan ginjal, kekurangan natrium, ensefalitis, tumor otak, keracunan obat penenang. Maka harus diperiksa secara lebih teliti guna perawatan lebih lanjut.
Narkolepsi: gangguan tidur menyerang secara mendadak, pada waktu sadar tiba-tiba jatuh tertidur, sering terjadi pada anak sekolah yang tertidur tiba-tiba di bangku sekolah, atau pada saat rapat, mendengarkan ceramah, dan lain-lain. Dapat membahayakan bila serangan terjadi pada waktu mengendarai mobil atau berada di tempat yang curam. Biasanya ada riwayat radang otak, trauma kepala, sifilis, tumor otak yang menyebabkan cacat di batang otak.
Insomnia (tidak dapat tidur) ada yang primer, sekunder, atau sebagai gejala pendahulu penyakit.
Pada insomnia primer, seseorang sejak kecil bertahun-tahun siang malam tidak bisa tidur, tak dapat menikmati tidur padahal orang tersebut tidur bahkan mendengkur. Akibatnya orang tersebut bisa mengalami konstipasi, lemas, lesu, lamban, cepat lupa, tidak bergairah. Bila tidak tidur lebih dari 60 jam maka bisa terjadi tangan gemetaran, kelopak mata sedikit menutup, raut muka hampa, bola mata merah, berat badan susut tapi tampak segar dan sehat. Tidur REM sangat kurang, NREM cukup.
Insomnia sekunder psikoneurotik, dengan gejala sakit kepala, pusing, perut kembung, badan pegal, otot tungkai kejang.
Insomnuia sekunder penyakit organik, ditandai dengan sesak nafas, kesemutan tungkai, jari-jari tidak merasa, encok, sering kencing malam hari, mengompol, kejang perut, batuk asthma, sindroma otak organik. Tentu saja harus diobati penyakit-penyakitnya.
Ngigau: berbicara dalam keadaan tidur berkaitan dengan mimpi-mimpi yang seram (pavor nokturnus) biasanya juga berhubungan dengan somnabulisma: berjalan dalam keadaan tidur, sleepautomatism: perbuatan dalam keadaan tidur yang tampaknya tidak mempunyai arti dan tujuan seperti, melipat pakaian dan menata koper. Biasanya penderita heran tapi sedikit ingat akan perbuatannya. Merupakan fenomena fisiologis dan tak perlu pengobatan. Bila mengganggu kwalitas tidur maka penderita perlu pengobatan.
Kejang nokturnus: gerakan-gerakan kejang sejenak pada waktu tidur, seperti pada bayi,.
Paralisis nokturnus: Perasaan lumpuh seluruh tubuh ketika sedang tidur (tindihan), menimbulkan kekhawatiran dan ketakutan karena tidak dapat menggerakkan anggota tubuhnya, perasaan ini menghilang serentak pada waktu mata dapat dibuka, merupakan lumpuh imajiner dalam keadaan tidur. Tidak perlu pengobatan.
Tentu saja untuk mendapatkan tidur berkualitas, manusia harus berperilaku hidup atau bergaya hidup sehat dalam menjaga fisik, mental dan spiritualnya secara seimbang.
Kopi atau minuman yang mengandung kafein yang merangsang aktivitas otak akan berada dalam tubuh selama 12 jam, jadi harus dipikirkan waktu yang tepat untuk minum kopi sehingga dapat tidur dengan baik. Juga perlu diketahui makanan-makanan yang mengandung tryptophan dapat merangsang otak mengeluarkan serotonin seperti gandum (roti atau biscuit), havermut, serealia dicampur susu dapat digunakan minimal 1 jam sebelum tidur untuk menghilangkan rasa lapar di malam hari sehingga dapat tidur dengan nyenyak. Gerak badan teratur dapat memperbaiki kwalitas tidur. Dan pembinaan mental spiritual sangat berguna.
Script by dr. Patricia H. ©2010.08.04





Tidak ada komentar:
Posting Komentar